akupun mencari tahu jasa apa yang telah beliau buat untuk perempuan indonesia, terlebih lagi tulisannya yang bisa membuka mata hati perempuan untuk menuntut haknya. setelah membaca dan memaknai tulisan beliau akupun semakin mengaguminya. berikut ini petikan surat-surat kartini yang di tulisnya kepada sahabat penanya di eropa :
“Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya.” (Surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, Agustus 1900)
“Orang memang menaruh perhatian yang sungguh-sungguh kepada perkembangan otak mereka, tetapi apa yang dilakukan untuk pembentukan watak mereka?.” (Surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, Agustus 1900)
“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?.” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902)
”Sesungguhnya adat sopan-santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adikku
harus merangkak bila hendak lalu di hadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah segera ia turun duduk di tanah, dengan menundukkan kepala, sampai aku tidak kelihatan lagi. Adik-adikku tidak boleh berkamu dan berengkau kepadaku. Mereka hanya boleh menegur aku dalam bahasa kromo inggil (bahasa Jawa tingkat tinggi). Tiap kalimat yang diucapkan haruslah diakhiri dengan sembah. Berdiri bulu kuduk bila kita berada dalam lingkungan keluarga bumiputera yang ningrat. Bercakap-cakap dengan orang yang lebih tinggi derajatnya, harus perlahan-lahan, sehingga orang yang di dekatnya sajalah yang dapat mendengar. Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek- pendek, gerakannya lambat seperti siput, bila
berjalan agak cepat, dicaci orang, disebut "kuda liar". [Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899]
"Peduli apa aku dengan segala tata cara itu ... Segala peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja.Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu ... Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini, dan Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas- batas mana cara liberal itu boleh dijalankan. [Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899]
“Bolehlah, negeri Belanda merasa berbahagia, memiliki tenaga- tenaga ahli, yang amat bersungguh mencurahkan
seluruh akal dan pikiran dalam bidang pendidikan dan pengajaran remaja-remaja Belanda. Dalam hal ini anak-anak Belanda lebih beruntung dari pada anak-anak Jawa, yang telah memilki buku selain buku pelajaran sekolah.” [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 20 Agustus 1902]
"Pergilah. Laksanakan cita-citamu. Kerjalah untuk hari depan. Kerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas di bawah hukum yang tidak adil dan paham-paham yang palsu tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Pergi. Pergilah. Berjuanglah dan menderitalah, tetapi bekerjalah untuk kepentingan yang abadi" [Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902]
"Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami
menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama. [Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902]
berbanggalah kita memiliki putri bangsa seperti beliau, setiap kata dari suratnya hanya ingin perempuan indonesia mendapatkan kesetaraan gender terutama dalam hal pendidikan tanpa mengabaikan kodratnya sebagai perempuan. walaupun sebenarnya ibu kartini tidak bisa merasakan kebebasan itu namun jasa beliau membuat wanita indonesia mendapatkan kebebasannya dan beliau telah menginspirasi perempuan indonesia. jadi, wanita indonesia berterimakasihlah engkau kepada ibu kartini.