kau tahu seperti apa rasanya menyesal?
rasanya seperti tercabik-cabik, bagai pohon kekar yang tumbang dan lebih parahnya lagi jatuh kedalam jurang.
aku benci perasaan itu.
tentunya tidak ada yang menyukainya bukan?
tapi ada yang bilang, nikmati saja luka itu karena itu cara tercepat untuk move on.
sepenuhnya aku tidak setuju, karena ini terlalu sakit untuk dinikmati.
satu penyesalan, yang entah mengapa kuyakini tidak akan pernah bisa hilang.
yaitu dirimu.
bukan pertemuanku denganmu yang aku sesali.
karena pertemuan denganmu adalah sebuah takdir yang tak bisa dilawan.
yang aku sesali adalah logika dan perasaanku terhadapmu.
ya...logikaku yang terlalu bodoh untuk mempercayai semua kata-katamu dan perasaanku yang terlalu naif untuk terus memaafkanmu.
dan itu semua penyesalan yang terus menghantuiku sampai saat ini.
andai saja dulu logikaku berjalan sebagaimana semestinya dan perasaanku tumbuh dengan sewajarnya pasti semua tidak akan seperti ini jadinya.
tapi kata ''andai" yang sudah ditelan waktu tidak akan pernah bisa menjadi nyata.
sekarang, hanya ada diriku yang mencoba melawan penyesalan itu.
mencoba melawannya dengan sebuah harapan.
harapan untuk hidupku selanjutnya.
harapan yang tidak akan pernah ada lagi namamu di dalamnya
karena namamu hanya ada di dalam penyesalan.
.
rasanya seperti tercabik-cabik, bagai pohon kekar yang tumbang dan lebih parahnya lagi jatuh kedalam jurang.
aku benci perasaan itu.
tentunya tidak ada yang menyukainya bukan?
tapi ada yang bilang, nikmati saja luka itu karena itu cara tercepat untuk move on.
sepenuhnya aku tidak setuju, karena ini terlalu sakit untuk dinikmati.
satu penyesalan, yang entah mengapa kuyakini tidak akan pernah bisa hilang.
yaitu dirimu.
bukan pertemuanku denganmu yang aku sesali.
karena pertemuan denganmu adalah sebuah takdir yang tak bisa dilawan.
yang aku sesali adalah logika dan perasaanku terhadapmu.
ya...logikaku yang terlalu bodoh untuk mempercayai semua kata-katamu dan perasaanku yang terlalu naif untuk terus memaafkanmu.
dan itu semua penyesalan yang terus menghantuiku sampai saat ini.
andai saja dulu logikaku berjalan sebagaimana semestinya dan perasaanku tumbuh dengan sewajarnya pasti semua tidak akan seperti ini jadinya.
tapi kata ''andai" yang sudah ditelan waktu tidak akan pernah bisa menjadi nyata.
sekarang, hanya ada diriku yang mencoba melawan penyesalan itu.
mencoba melawannya dengan sebuah harapan.
harapan untuk hidupku selanjutnya.
harapan yang tidak akan pernah ada lagi namamu di dalamnya
karena namamu hanya ada di dalam penyesalan.
.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar